Menjelaskan Konsep Dasar PSAK 24 secara Sederhana dan Mudah pada praktisi SDM atau HRD atau Serikat Pekerja yang bukan Auditor atau Akuntan

Konsep dasar PSAK 24 itu sebenarnya sederhana dan mudah dipahami sehingga dapat dianalogikan dengan orang yang menabung secara mencicil setiap bulan untuk pembayaran uang pangkal masuk SMP untuk anaknya yang sekarang baru masuk Sekolah Dasar. Demikian saya selalu memulai penjelasan konsep dasar PSAK 24 kepada kolega yang tidak punya latar belakang auditor atau akuntan.

Pertanyaan tentang konsep dasar PSAK 24 tersebut seringkali datang dari sesama praktisi SDM / HRD dan juga anggota atau pengurus Serikat Pekerja yang kebingungan dengan penjelasan yang cenderung rumit dari bagian Accounting/Finance. Jawaban teknis rumit dan berbelit sering muncul karena terkontaminasi dengan tingkat kesulitan penerapan baik dari ribetnya cara perhitungan maupun sulitnya mencerna laporan aktuaris yang jadi dasar laporan keuangan untuk imbalan kerja.

Sementara saya yang memang bukan auditor, akuntan ataupun aktuaris, mencoba melihatnya secara sederhana saja. Bahwa penerapannya rumit memang betul. Soalnya kalau memang sederhana dan mudah perhitungannya pasti bisa dikerjakan sendiri dan tak butuh aktuaris profesional untuk menghitung kewajiban PSAK 24 kan?

Menurut hemat saya, kalau kita lihat bersama ke prinsip dasarnya sebenarnya cukup sederhana yaitu kewajiban penggunaan prinsip accrual basis sehingga dapat kita bisa gunakan analogi sederhana di atas.

Kembali ke analogi tadi, katakanlah kita setiap bulan mengeluarkan biaya untuk keperluan sekolah anak kita di SD 1 juta sebulan atau 12 juta setahun. Tapi dari sekarang kita tahu bahwa saat anak kita lulus SD dan mau masuk SMP kita harus menyediakan uang pangkal, seragam, sumbangan atau apapun namanya katakanlah diperkirakan sebesar 36 juta. Maka timbul pilihan bagi kita sebagai orang tua apakah

• Opsi A:
nanti saja langsung membayar 36 juta tersebut secara tunai 6 tahun yad ?
atau
• Opsi B:
mulai menabung dari sekarang setiap bulan sebesar 500 ribu selama 72 bulan ?

Kalau istilah kerennya sih kita harus memilih antara cash basis dengan accrual basis.

Bila kita memilih opsi A, maka dari sisi pengeluaran rumah tangga kita, akan timbul fluktuasi/lonjakan besar saat bayar uang masuk SMP tersebut, biasanya tiap bulan keluar uang 1 juta, tapi saat bayar uang pangkal melonjak 36 juta.

Sedangkan bila memilih opsi B, setiap bulan kita mengeluarkan biaya 1.5 juta dan tidak saat membayar uang pangkal kita cukup mengambil uang yang sudah terkumpul di tabungan tadi.

Ilustrasi biaya pegawai bila menggunakan cash basis (garis merah) yang fluktuatif dan tidak mudah diprediksi dibanding accrual basis (garis biru) yang stabil dan mudah diprediksi

Nah, secara prinsip PSAK 24 meminta kita untuk memilih Opsi B atau accrual basis. Beberapa pertimbangan accrual basis dinilai lebih tepat dan wajar diterapkan antara lain karena :

  • dengan accrual basis perusahaan sudah menyiapkan dan mengakui biaya/kewajibannya yang akan timbul di masa yad
  • pengakuan biaya secara accrual ini akan menghindarkan dari adanya kewajiban tersembunyi yang akan melonjak saat kewajiban tersebut harus ditunaikan
  • secara cashflow perusahaan jadi lebih stabil dan tidak fluktuatif.

Secara rinci PSAK 24 mengatur bagaimana akuntansi dan penyajian laporan keuangan atas kewajiban perusahaan kepada pegawai yang realisasi pembayaran baru akan dilakukan di masa datang.

Apa sih cakupan dari PSAK 24 ?

Apa kaitannya dengan fasilitas pegawai ?

Mengapa kalau Serikat Pekerja mengusulkan fasilitas baru atau peningkatan fasilitas pihak manajemen selalu mengingatkan akan konsekuensi PSAK 24 ?

Apa yang dimaksud Imbalan Kerja ?

ikuti posting-posting berikutnya untuk memperoleh jawabnya

About Erwin Muniruzaman

A seasoned and intelligence HR practitioner with a span of more than 12 years on overall HR experience practice in leading companies of Banking and Retail industry. Leveraging his vast knowledge on Indonesian HR practices and regulations, to build a Performance Culture organization. Currently managing all HR strategy and policies in a multiformat retail business group with almost 15.000 employees in 33 cities across Indonesia. Act as a trusted advisor to member of Board of Directors on HR matters and responsible to align HR Strategies and Initiatives with busines strategic planning. Together with HR Director have transformed a passive and administration focus HR team into more adaptive, dynamic and modern HR team that always aligned its strategy with business strategy and needs. A passionate and HR enthusiast that always eager to share his ideas, opinions and experiences about HR related topics (especially Indonesian cases) to public, as a speaker as well as a HR blog writer in his personal blog/LinkedIn Profile : http://www.mewarisgagasan.wordpress.com https://id.linkedin.com/erwinmuniruzaman

5 comments

  1. Andrew

    next postingnya dong mas🙂

  2. syeril suryo

    wah mas, ilmu nya sangat dibutuhkan, bagaimana cara agar saya bisa lebih banyak lg belajar dari mas erwin
    tx

  3. Next postingnya sudah adakah Kang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: