Keadilan Secarik Telor Mata Sapi, Tantangan Komunikasi Sang Reward Manager

“Mama, boleh buatkan aku sarapan telor mata sapi?” rengek Sinta, anak TK berusia 6 tahun sambil memeluk ibu nya di dapur. Monika, sang ibu pun menjawab, “Iya, sayang, tunggu sebentar ya ibu buatkan”. Sinta pun duduk di meja makan dengan mata berbinar menunggu sarapan favoritnya disiapkan ibunya, seorang wanita karir yang sukses sebagai Reward Manager di perusahaan Multinasional.

Tak menunggu lama, Sinta sudah sibuk menyantap sarapan secarik telor mata sapi dengan lahap berdecap sambil berkata “Mama, memang paling baik sedunia. Terimakasih ya, masakan buatan Mama rasanya selangit”. Monika hanya tersenyum melihat tingkah putri bungsu nya itu.

“Ma, kakak boleh minta dibuatkan telor matasapi juga ?” kata Andi, si sulung yang sudah bertengger di meja makan. Monika mengangguk dan beranjak sambil mengenang betapa cepat waktu berlalu. Hari ini adalah hari pertama Andi masuk SMA, padahal serasa baru kemarin mengantar Andi pergi ke TK. Monika pun membuatkan telor mata sapi, tidak hanya satu tapi dua sekaligus. Dia ingat Andi hari ini akan ikut seleksi tim basket sepulang sekolah, pasti butuh asupan gizi lebih banyak dari biasa. Apalagi ia sekarang dalam masa masa pertumbuhan, masa rakus makan dan tak pernah kenyang layaknya remaja pria seusianya.

“Andi, ini telor bagian mu” kata Monika sambil memberikan piring berisi dua telor mata sapi. “Terimakasih ya Ma” sahut Andi sambil mengambil nasi.

“Mama jahat !” Tiba-tiba Sinta berteriak.

Monika kaget. “Kenapa sayang? Kok tiba-tiba marah?”
Sinta yang cemberut, berhenti makan sarapan favoritnya. Seolah masakan paling enak sedunia berubah jadi hambar.

“Mama tidak adil. Sinta kan anak mama juga seperti Kak Andi, kenapa hanya dibuatkan satu telur nya ?” sambil menunjuk pada dua telur mata sapi jatah kakak nya. Hilang sudah senyum bahagia dari rona wajah manis nya. Mama yang terbaik sedunia dalam sekejap berubah jadi Mama paling tidak adil seantero jagat.

Begitu mudahnya rasa puas dan senang berubah jadi marah dan kesal, hanya karena ‘merasa’ diperlakukan tidak adil.

Realita ini sangat dipahami seorang Reward Manager seperti Monika. Persepsi karyawan terhadap perusahaan akan sangat mempengaruhi motivasi bekerja. Sementara persepsi bukan lah sesuatu yang objektif tapi subjektif.
Dalam kasus telor mata sapi Andi dan Sinta, secara objektif apa yang dilakukan Monika sangat logis dan beralasan. Kebutuhan asupan gizi anak lelaki usia remaja sangat berbeda dengan kebutuhan anak TK. Bahkan bila Sinta dibuatkan telor mata sapi dua sama seperti Andi, malah tidak akan habis dan bersisa. Tapi Sinta akan melihat dari kacamata yang berbeda, sesuai dengan persepsi dan pemahaman nya. Sinta tidak melihat ada perbedaan antara Andi dan dirinya, yang dilihatnya adalah kesamaan mereka sebagai anak Monika.

Dalam dunia kerja, karyawan akan berperilaku seperti Sinta. Melihat dari kacamata persepsi mereka. Seorang karyawan akan sangat senang, bangga dan termotivasi atas fasilitas/kompensasi yg diterima dari perusahaan, terutama bila hal itu sesuai dengan harapan nya. Tapi karyawan yang sama juga bisa langsung demotivasi apabila ada karyawan lain yg setara dirinya menerima fasilitas/kompensasi jauh lebih baik dari dirinya tanpa ada alasan yang bisa dimengertinya.

Dalam hal ini yang akan menjadi kunci adalah KOMUNIKASI. Komunikasi Reward yang jelas kepada karyawan baik yang menerima maupun yang tidak menerima nya akan menjadi kunci keberhasilan suatu program Reward perusahaan. Desain Reward yang baik tidak cukup apabila tidak dibarengi komunikasi tujuan pemberian Reward. Alih alih membuat karyawan termotivasi, yang terjadi adalah munculnya ketidakpuasan.

Pagi itu, Monika sambil tersenyum menghampiri Sinta, duduk di sebelahnya. Dengan sabar menjelaskan pada Sinta dalam bahasa yang dimengerti anak TK. Menjelaskan konsep keadilan dari secarik telor mata sapi.

Bandung, Agustus 2015 –
@emuniruzaman

About Erwin Muniruzaman

A seasoned and intelligence HR practitioner with a span of more than 12 years on overall HR experience practice in leading companies of Banking and Retail industry. Leveraging his vast knowledge on Indonesian HR practices and regulations, to build a Performance Culture organization. Currently managing all HR strategy and policies in a multiformat retail business group with almost 15.000 employees in 33 cities across Indonesia. Act as a trusted advisor to member of Board of Directors on HR matters and responsible to align HR Strategies and Initiatives with busines strategic planning. Together with HR Director have transformed a passive and administration focus HR team into more adaptive, dynamic and modern HR team that always aligned its strategy with business strategy and needs. A passionate and HR enthusiast that always eager to share his ideas, opinions and experiences about HR related topics (especially Indonesian cases) to public, as a speaker as well as a HR blog writer in his personal blog/LinkedIn Profile : http://www.mewarisgagasan.wordpress.com https://id.linkedin.com/erwinmuniruzaman

4 comments

  1. Pingback: Download PP No. 45 tahun 2015 Penyelenggaraan Program Jaminan Pensiun – BPJS | Mewaris Gagasan - Just Sharing Ideas

  2. Pingback: Tak Kenal Justru Disayang, Dilema Talent Management | Mewaris Gagasan - Just Sharing Ideas

  3. dedianto

    wow..dalam bahasa yg sederhana…maknanya luarbiasa.

  4. Pingback: Untungnya Si Bengal Vokal, Malangnya Si Penurut Pendiam, Paradoks Reward Retensi | Mewaris Gagasan - Just Sharing Ideas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: