Manajemen Keberuntungan

Monika terserang panic attack. Atasannya baru saja menelepon , bilang tidak bisa masuk kantor karena mendadak harus mengantar istrinya melahirkan ke Rumah Sakit dan meminta Monika yang menggantikan presentasi ke Dewan Direksi untuk proposal fasilitas baru untuk karyawan. Monika bingung, takut, gugup, semua bercampur aduk jadi satu. Ia pun terduduk di meja kerjanya.

Monika duduk diam menatap layar monitor laptopnya sambil tak sadar memainkan gantungan kunci Donal Bebek, tokoh komik kesayangannya sejak masih kanak kanak. Pikiran Monika pun melayang mengingat komik Donal Bebek. Dulu ia selalu membayangkan alangkah enak bila hidup seperti si Untung Angsa yang tak perlu bekerja sedikitpun tapi selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Kebalikan dari Donal Bebek yang sering ditimpa kemalangan dan selalu harus bekerja keras menghidupi ketiga keponakannya yang cerdas tapi usil.  Tapi Monika tetap lebih suka dengan Donal Bebek, yang pantang menyerah, selalu terus berusaha dan berusaha walaupun hidupnya susah dan malang.

Senyum Monika pun mengembang, mengenang kehidupan cintanya, saat ia memutuskan lebih memilih Bimo menjadi suami hanya karena sifatnya yang pantang menyerah dan selalu berusaha sesulit apapun situasinya. Ia bahkan menolak lamaran Tony yang anak konglomerat yang tajir, karena lebih percaya Bimo akan lebih dapat diandalkan saat menghadapi situasi sulit. Aku jadi mirip Desi Bebek yang lebih memilih Donal Bebek dibanding Untung Angsa, pikirnya waktu itu. Monika mengikuti pemikiran Gober Bebek sang konglomerat yang lebih percaya pada Donal Bebek, karena tahu ia akan lebih bisa menghargai arti sebuah kesuksesan karena selalu harus berjuang untuk menggapainya.

Melihat lagi gantugan Donal Bebek, Monika tiba-tiba tersadar,  ia baru paham sekarang. Apa yang dilakukan Donal Bebek adalah suatu bentuk Manajemen Keberuntungan yang sesungguhnya dalam dunia nyata. Dalam realitas kehidupan, kita tidak pernah bisa tahu kapan kita akan memperoleh kesempatan. Oleh karena itu kita harus selalu mempersiapkan diri, selalu bekerja keras, selalu berjuang walaupun tak tampak ada peluang. Sama seperti Donal Bebek yang tak pernah putus asa untuk selalu bangkit dan berjuang walau ditimpa kemalangan.

Manajemen Keberuntungan sejati adalah selalu mempersiapkan diri, sehingga kapan pun kesempatan itu datang, kita sudah siap, karena kesempatan datangnya tak terduga dan takkan datang untuk kedua kali. Manajemen Keberuntungan bukanlah menunggu keajaiban datang dari langit sambil tak melakukan apa-apa. Itu sebabnya Donal Bebek lebih banyak disukai orang dibanding Untung Angsa, karena ia lebih mencerminkan realitas kehidupan nyata.

Contoh konkrit implementasi Manajemen Keberuntungan datang dari dunia sport yaitu dedikasi dari para kiper cadangan di klub sepakbola profesional. Sebagai kiper cadangan kemungkinan mereka untuk bermain adalah sangat kecil.Selama kiper utama berpenampilan baik dan sehat walafiat, kiper cadangan akan selalu duduk di bangku cadangan, bisa jadi sepanjang musim kompetisi.

Di Liga Inggris pada tahun 2014 hanya 9 kali kiper cadangan turun bermain dari seluruh 380 pertandingan. – BBC Sport

Jadi hanya ada kesempatan bermain sebesar 2,3% bagi para kiper cadangan. Bila kesempatan bermain itu datang, kesiapan mereka akan menentukan apakah mereka akan tampil bersinar gemilang atau tampil buruk untuk meredup selamanya. Apabila para kiper cadangan itu tak menerapkan Manajemen Keberuntungan, dan hanya bermalas-malasan atau berlatih sekedar formalitas saja, maka manakala kesempatan bermain itu tiba-tiba hadir, mereka tak akan siap dan bisa jadi bermain buruk. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Hampir dipastikan mereka takkan mendapat kesempatan kedua untuk bermain lagi.

If the chance comes along I would be absolutely devastated if I haven’t prepared well then suddenly played and didn’t perform. I would be really angry with myself”

(Casper Ankergren, Brighton & Hove Albion goalkeeper – 2014)

Dalam dunia kerja korporasi pun demikian, kita tak pernah tahu kapan kesempatan itu akan datang. Oleh karena itu kita harus selalu siap. Salah seorang mentor karir Monika pernah berkata:

“Menguasai kompetensi dan keahlian di jabatan yang sekarang mutlak diperlukan untuk bisa sukses. Tapi hanya mereka yang mampu membayangkan diri dan berfikir seolah sudah berada di posisi puncak, yang benar-benar akan bisa mencapainya”

Bila kita tidak memiliki kompetensi dan tidak mampu menyelesaikan tugas di posisi saat ini maka kita tidak akan pernah bisa maju ke posisi yang lebih tinggi. Bagaimana bisa kita dipercaya untuk tugas yang lebih tinggi, bila tugas di posisi sekarang saja tidak tuntas. Bukan tidak mungkin malah kita akan tersingkir karena gagal menjalankan tugas.

Namun bila kita juga hanya fokus pada skill dan keahlian di posisi sekarang, maka kita juga akan sulit maju ke tingkat yang lebih tinggi. Kita hanya akan menjadi spesialis atau pakar di bidang kita, tapi sulit untuk promosi ke atas, karena makin tinggi posisi maka pemikiran strategis akan lebih dominan dibandingkan aspek teknis. Oleh karena itu, bila kita mampu membayangkan diri di posisi puncak, kita bisa lebih memahami perspektif yang lebih luas dari sekedar aspek teknis. Dengan memiliki pola fikir dan cara pandang sebagaimana posisi puncak, kita akan lebih bisa mengantisipasi kebutuhan atasan dan organisasi.

Jadi kunci keberhasilan Manajemen Keberuntungan di dunia korporasi adalah menguasai kompetensi dan keahlian di posisi saat ini dan selalu mempersiapkan diri untuk menduduki posisi yang lebih tinggi dengan memahami pola berfikir dan cara pandang dari posisi puncak. Dengan demikian kita akan selalu siap ketika keberuntungan menyapa dan memberikan kesempatan untuk tampil.

Monika pun bangkit beranjak, ia mempelajari ulang bahan presentasi yang kemarin telah disusun bersama atasannya. Kemudian ia memejamkan mata, membayangkan diri apabila ia yang menjadi Dewan Direksi.

Monika berkata dalam hati, ” Inilah kesempatan untuk bermain. Lapangan pertandingan sudah disiapkan, tinggal kembali pada diriku bagaimana akan menjalankannya.”

Digenggamnya gantungan kunci Donal Bebek, maskot kehidupan dan keberuntungannya. Ia pun masuk ke ruang rapat Dewan Direksi dengan tersenyum.

Waiting for luck or prepare yourself

Waiting for luck or prepare yourself

Jakarta, Oktober 2015

BBC Sport: “Back-up goalkeepers: What is life on the bench really like?”

About Erwin Muniruzaman

A seasoned and intelligence HR practitioner with a span of more than 12 years on overall HR experience practice in leading companies of Banking and Retail industry. Leveraging his vast knowledge on Indonesian HR practices and regulations, to build a Performance Culture organization. Currently managing all HR strategy and policies in a multiformat retail business group with almost 15.000 employees in 33 cities across Indonesia. Act as a trusted advisor to member of Board of Directors on HR matters and responsible to align HR Strategies and Initiatives with busines strategic planning. Together with HR Director have transformed a passive and administration focus HR team into more adaptive, dynamic and modern HR team that always aligned its strategy with business strategy and needs. A passionate and HR enthusiast that always eager to share his ideas, opinions and experiences about HR related topics (especially Indonesian cases) to public, as a speaker as well as a HR blog writer in his personal blog/LinkedIn Profile : http://www.mewarisgagasan.wordpress.com https://id.linkedin.com/erwinmuniruzaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: